Mengenang Kejayaan Bus Pedesaan Budi Luhur dan Sunar Adi

Dahulu, sekitar tahun 1990’an sampai dengan tahun 2005 saya pernah merasakan menjadi bagian dari penumpang bus pedesaan Budi Luhur dan Sunar Adi. Bagi yang belum tahu atau belum mengenal bus Sunar Adi dan Budi Luhur, keduanya merupakan bus pedesaan dengan trayek yang sama yaitu dari Terminal Tirtonadi Solo-Kerten-Terminal Kartasura-Colomadu-Ngemplak Boyolali-Banyuanyar-Nusukan-dan kembali lagi ke Terminal Tirtonadi. Walaupun mempunyai trayek yang sama, namun keduanya tidak pernah berebutan dalam mencari penumpang karena keduanya sudah mempunyai jamnya masing-masing.

Sekitar tahun 1990’an sampai dengan sekitar tahun 2005, belum banyak masyarakat di pedesaan yang mempunyai kendaraan bermotor sendiri. Untuk beraktivitas dalam jarak yang lumayan jauh mereka lebih nyaman menggunakan bus pedesaan karena jalanan pada tahun 1990’an masih jalan tanah dan berbatu, belum semulus sekarang ini jika masyarakat menggunakan sepeda kayuh. Bus pedesaan lebih nyaman untuk aktivitas pergi pulang ke pasar, sekolah, tempat kerja, dan lain sebagainya pada waktu itu.

Saya masih ingat ketika SMK sekitar tahun 2002 berangkat sekolah dari rumah di Donohudan sampai ke SMP 12 Manahan hanya membayar 500 rupiah saja untuk pelajar. Tidak hanya saya, banyak pelajar yang menggunakan bus pedesaan Budi Luhur dan Sunar Adi untuk beraktivitas ke sekolah. Bahkan jika di dalam bus sudah penuh sesak penumpang, kami para pelajar pun nekat bergelantungan di pintu-pintu bus tersebut walaupun hanya berpegangan satu tangan di pintu bus dan kaki pun hanya menapak satu.

Masih ingat juga dulu banyak pedagang yang setelah kulakan dari pasar kartasura menaikkan barang dagangannya ke dalam bus. Seperti singkong 3 karung dinaikkan ke dalam bus, sayur-mayur hasil kulakan dan lain sebagainya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, kemudahan dalam kepemilikan sepeda motor dan peningkatan penghasilan masyarakat di pedesaan, bus-bus tersebut lambat laun mulai ditinggalkan. Ditambah lagi jalan-jalan sudah mulai diaspal, tidak ada lagi jalan tanah dan berbatu seperti dulu.

Lambat laun, mereka lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Seiring berjalannya waktu, bus-bus pedesaan tersebut sepi penumpang dan akhirnya karena tidak dapat menutupi biaya operasional yang semakin besar. Bus-bus pedesaan tersebut akhirnya gulung tikar dan hanya meninggalkan kenangan dan sejarah yang tidak akan pernah dilupakan oleh generasi era tahun 1990’an.

maaf no picture, susah cari di google, barang kali jika ada yang punya gambarnya bisa di share di sini.

Iklan

9 pemikiran pada “Mengenang Kejayaan Bus Pedesaan Budi Luhur dan Sunar Adi

Monggo, silakan berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s